Sambutan Ketua Yayasan Nururrahman

Sambutan Ketua Yayasan Nururrahman

  • Pada Acara Peletakan Batu Pertama Taman Pendidikan al-Qur’an dan
  • Auditorium Nururrahman, Bekasi, 25 Spetember 2005


Isra Mi’raj adalah suatu kalimat yang bermakna perjalanan keilahian seorang Rasulullah SAW untuk penobatan sebuah tugas bagi manusia yang menyatakan dirinya muslim. Tugas itu bukan hanya beraksentuasi pada sekedar kewajiban shalat, tetapi lebih ditekankan pada sebuah keyakinan untuk merenungi dan mengakui keberadaan dan kemahakuasaan Allah SWT.

Keyakinan akan kebenaran Isra Mi’raj pada zaman itu nyaris menjadi sebuah imajinasi belaka jika bukan karena gelar Al-Amin yang disandang Nabi Muhammad dan jika Allah tidak mengotentifikasikannya dalam Al-Qur’an (S.Q. Al-Israa : 1). Bahkan sebenarnya, tidak sedikit orang-orang Quraisy pada waktu itu yang menganggap Nabi tidak waras, sehingga orang-orang yang tadinya muslim, kini harus “berseberangan” (Murtad) dengan Nabi.

Meskipun demikian, orang-orang yang masih setia kepada Muhammad dan meyakini bahwa beliau telah mengalami suatu peristiwa yang disebut sebagai Isra Mi’raj atas kemahakuasaan Allah, justru semakin bertambah imannya. Sehingga jiwa raganya dipertaruhkan untuk membela Nabi dari cercaan dan cemoohan kafir Quraisy.

Kondisi umat Islam ketika Nabi menerima tugas keilahian yang dinamakan shalat melalui proses yang disebut Isra Mi’raj saat itu begitu kritis dan berada pada kondisi yang cukup melelahkan, dikarenakan tekanan yang bertubi-tubi yang datang dari kafir Quraisy. Maka secara perlahan-lahan atas bimbingan Nabi, mulailah shalat dipraktekkan dan dijadikannya sebagai sebuah metode upacara ritual untuk mengaktualisasikan terminologi Islam yang bermakna penyerahan dan pengakuan akan kelemahan status manusia sebagai yang diciptakan (baca: makhluq) dan Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah.

Keyakinan akan adanya kewajiban shalat akan sia-sia, jika tidak dibarengi dengan keyakinan akan kebenaran Isra Mi’raj. Karena keyakinan terhadap kebenaran Isra Mi’raj adalah merupakan rangkaian keyakinan akan kewajiban shalat. Hal itu harus dipahami sebagai dasar pemikiran bahwa mendirikan shalat bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban tetapi mengandung implikasi positif psikis dan psikologis untuk tanhiyatunnafsi ‘anil fakhsyai walmunkari.

Perkembangan dinamika pemikiran para Ulama yang menjadikan perbedaan cara shalat secara furu’iyyah janganlah dijadikan sebagai ganjalan untuk mengembangkan pemahaman keislaman secara universal. Menjadi kontraproduktif  kalau Islam hanya menjangkau persoalan-persoalan yang sejak dulu sudah selesai diperdebatkan. Hal yang paling penting dari itu adalah bagaimana kita memasukkan falsafah shalat ke dalam segi-segi kehidupan kita. Sudah barang tentu itu harus kita mulai dari niat dan tekad untuk mendirikan shalat oleh diri kita sendiri.

Kalimat menegakkan shalat secara harfiah bermakna simultanisasi konkrit dalam setiap gerak dan langkah kita. Tentu saja, gerak dan langkah tersebut bermakna positif ke arah yang lebih maju. Artinya, sikap mental membangun, reformative political will, transparansi, kebijaksanaan, jujur, amanah, dan sikap angon (mengayomi) serta mendidik terhadap lingkungan sekitar, adalah menjadi wajib.  Sama wajibnya dengan makna shalat secara rutinitas ritual sehari semalam lima waktu.

Pesan Isra Mi’raj adalah pesan membumikan kalimat-kalimat Tauhid. Rukun Islam harus bisa dipahami untuk menyelesaikan segala persoalan masyarakat bangsa saat ini. Syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji harus menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Syahadat adalah kesaksian karya kita. Kesaksian tentang alam persepsi kita. Kesaksian tentang sejauhmana Allah swt benar-benar telah kita per-Tuhan-kan. Sedalam apa keyakinan kita kepada Tuhan menancap dalam ubun-ubun kesadaran kita, sehingga bumi yang kita pijak dan langit yang kita junjung tidak akan pernah bisa menggoyahkan kita punya keyakinan.

Setelah syahadat sudah menjadi pintu gerbang untuk melihat seperti apakah dunia persepsi kita saat ini, baru kita melangkah untuk menjalankan shalat. Sama-sama kita pahami bahwa shalat memiliki rangkaian syarat dan rukunnya yang begitu rapi, konsekwen, konsisten dan disiplin. Rapi adalah bab thaharah, konsekwen adalah bab tawadhu’, ksatria, berani mengaku atas tindakannya dan sikapnya yang salah. Muhasabah, mawas diri, introspeksi, jujur dan sederhana. Konsisten adalah bab istiqomah dalam ketawadhuan, muhasabah, introspeksi, kejujuran dan kesederhanaan. Disiplin adalah bab ketertiban,  bisa mengatur waktu. Kedisiplinan mengajarkan kita tentang keadilan dan kebijaksanaan.

Secara filosofis, shalat adalah salah satu bentuk manifestasi pengabdian dalam rangka menunaikan tugas yang bukan hanya sebagai seorang muslim tetapi juga sebagai manusia yang diciptakan Allah.

Kecuali itu, mempersiapkan generasi penerus yang bertaqwa adalah juga merupakan bentuk manifestasi pengabdian setiap muslim dalam sebuah tatanan sosial masyarakat. Disamping hal itu merupakan bagian integral dari tarbiyatul islamiyah, juga merupakan bagian dari tanggung jawab akhlak setiap aktor peradaban yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat.

Atas dasar itu, Yayasan Nururrahman ingin mewujudkan ide-ide pengkaderan generasi muslim yang dituangkan dalam bentuk sebuah institusi pendidikan informal terarah. Pemikiran ini adalah sebuah representasi syiar untuk mempersiapkan resistensi akhlak kaum muda remaja dan anak-anak dari dampak negatif globalisasi dan kesalahkaprahan interpretasi dalam memahami makna modernitas. Karenanya fundamentasi nilai-nilai Islam secara literal mutlak diperlukan. Fundamentasi nilai-nilai Islam tidak bisa diartikan sebagai radikalisme, ekstrimisme atau berani menghancurkan sebuah komunitas dengan mengebom dirinya sendiri. Pendapat kami mengatakan Islam tidak pernah mengajarkan pola-pola seperti itu. Peperangan yang dilancarkan Nabi SAW terjadi karena diserang secara konstan. Perang tidak pernah terjadi kalau tidak ada penyerangan dari pihak manapun.

Nabi SAW mengajarkan bahwa perang yang sesungguhnya adalah pada saat puasa, yakni menahan diri dari hawa nafsu liar. Keserakahan adalah hawa nafsu liar. Menumpuk-numpuk harta juga adalah hawa nafsu liar. Karenanya zakat menjadi termin selanjutnya dari perang yang diajarkan Nabi. Ketika harta yang kita miliki harus kita keluarkan, saat itulah perang dimulai. Mampukah kita melawan keserakahan, sikap pelit, gaya hidup hedonis, bermewah-mewahan. Adakah gerak dalam hati kita untuk melihat lingkungan sekitar yang masih banyak dan perlu kita bantu dan kita santuni. Mari kita galakkan diri kita untuk selalu menengok ke bawah dalam kecukupan harta.

Setelah kita sudah cukup disiplin pada jalan ini, mari kita melangkah untuk memetik iman pada rukun Islam yang ke lima, yakni berhaji ke Baitullah. Haji bermakna sebuah upacara pelantikan kemanusiaan kita. Baitullah adalah Rumah Allah, Arsy-nya Allah, tempat Allah bersemayam. Ka’bah hanyalah symbol. Ka’bah yang menjadi Baitullah ada di dalam diri kita sendiri. Ada satu titik di dalam diri kita yang begitu suci, jernih dan tak terkontaminasi. Namun banyak dari kita yang menutupnya dengan nafsu liar kita sendiri. Semakin banyak dan tak terkendali nafsu itu, semakin tidak terlihat bahkan seolah semakin hilang dari dalam diri kita.

Bagi siapa yang benar-benar berhaji, maka dia akan menemukan kekerdilan dirinya di hadapan Tuhan. Semakin kerdil ia di hadapan Tuhan, maka ia semakin mendekati kemenangan. Dan suatu saat nanti ia akan sampai pada sebuah medan rasa; di mana dia sendiri adalah kebebasan itu.

Bagi kami, semangat ini adalah modal dasar untuk bukan hanya bertujuan memproteksi budaya Islam, tetapi juga untuk keluar dari stigma masyarakat konservatif (jumud) dan paternalistik yang hanya tunduk pada taqlid dan percaya pada tradisi nenek moyang menuju ke masyarakat yang transformatif (mughayyir), dinamis dan prospektif dalam hal regenerasi dan kaderisasi aktor-aktor muslim ke depan.

Menelaah kondisi psikologis masyarakat muslim di pinggiran Kota Jakarta terutama Kota Bekasi, lebih khusus lagi Kelurahan Pekayon Jaya yang dalam kehidupannya sangat berkepentingan terhadap kesinambungan tradisi islami karena komunitasnya yang muslim. Kesadaran ini memunculkan sebuah gagasan untuk melaksanakan pekerjaan suci dalam rangka mempertahankan nilai-nilai yang kerap kali berbenturan dengan budaya Barat. Upaya ini adalah sebuah proses resistensi budaya Timur  terhadap penetrasi budaya Barat yang memakai topeng modernisasi.

Salah satu upaya untuk menciptakan masyarakat dinamis agamis adalah dengan meniupkan ruh-ruh Islam dalam diri masyarakat. Ruh-ruh Islam akan muncul jika sarana sosial keagamaan sebagai syarat pendukung pembangunan aspek-aspek materil telah tersedia. Oleh karena itu, Pembangunan fisik Gedung Serba Guna untuk Lembaga Pendidikan Baca Tulis Al-Qur’an (TPQ) dan Kegiatan Lembaga Keislaman sebagai sentral pengembangan dakwah islamiyah mutlak diperlukan. Meningkatnya pertumbuhan penduduk, meningkatnya kebutuhan sarana pendidikan dan taman bermain edukatif, dan kurangnya sentral informasi keagamaan adalah sebuah dasar pemikiran bergeraknya Yayasan Nururrahman untuk membangun gedung tersebut.

Mari sama-sama kita bahu membahu mengapresiasikan shalat kita dalam bentuknya yang nyata dan lebih bernilai. Karena  begitulah pola “menanam” yang benar sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Munculnya gagasan membangun Gedung TPQ dan gedung serba guna diawali oleh semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat sekitar akan kantong-kantong kegiatan pendidikan informal bagi anak-anaknya maupun bagi dirinya sendiri. Di samping hal tersebut juga merupakan program Yayasan Nururrahman yang ingin mendharmabhaktikan dirinya untuk agama, masyarakat, bangsa dan Negara.

Berangkat dari pertimbangan di atas, maka Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) untuk anak-anak mulai dibentuk dan dimulai kegiatannya pada pertengahan April 2005 dengan mengambil Masjid Jami Ummul Quro sebagai tempat kegiatan. Al-hamdulillah TPQ tersebut terus berjalan hingga saat ini. Namun, melihat kondisi masjid yang kurang begitu kondusif untuk kegiatan anak-anak, maka sejak itulah keinginan memiliki gedung semakin menguat.

Sesuai dengan arah pembangunan nasional dan mengingat semakin beratnya tantangan setiap muslim di era globalisasi, maka pembangunan sarana/prasarana untuk memperkuat iman dan menimba ilmu mutlak diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk membentengi diri dan masyarakat dari pengaruh negatif budaya barat yang hampir tidak bisa dibendung.

karenanya, pembangunan gedung ini ditujukan untuk meningkatkan proses penempaan mental spiritual masyarakat muslim di lingkungan Pekayon Jaya. Selain sebagai tempat pendidikan informal, gedung ini juga akan dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan di kalangan pemuda, Ibu-ibu, dan orang tua, bimbingan manasik haji dan kegiatan sosial lainnya sesuai dengan arah dan tujuan Yayasan.

Akhirnya, kami harus mengatakan bahwa keberhasilan dari proses tranformasi sosial keagamaan baru bisa diawali jika kesadaran kesejatian diri mulai tumbuh. Namun kesadaran tidak cukup jika tidak termanifestasi dalam niat. Dan niat tidak berarti apa-apa jika tidak mewujud dalam langkah nyata. Dan langkah nyata menjadi gamang jika tidak diiringi kesabaran, kekhidmatan, dan keikhlasan.

Namun demikian, semua hanyalah sampah jika pembangunan fisik menjadi tolak ukur keberhasilan ruhiyah, lantaran harga materil menjadi alat bayar untuk ‘membeli’ nafsul muthmainnah wa qalbun salim.

Hanya dengan membenahi keyakinan pada Tuhan suatu umat dapat berevolusi ke arah pemikiran agama yang berperadaban dan hanya dengan keikhlasan suatu umat dapat bertransformasi ke arah pembentukan peradaban yang berkeagamaan.

 

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: