Masjid Jamie’ Ummul Quro

MASJID JAMIE’ UMMUL QURO

Prolog

Masjid bagi umat Islam adalah representasi dari sebuah konsistensi keberagamaan. Secara hakekat ia merupakan sosok kesucian yang terletak pada kesadaran memahami Tuhan, Allah SWT. Wujud absolutnya berada dalam diri manusia. Ia juga sebagai proklamator kehambaan yang meletakkan kepala sejajar dengan kaki dalam rangka menjemput kefitrahannya.

Masjid secara etimologi berarti tempat sujud. Sebuah tempat di mana pengakuan diri setiap muslim menjadi benang merah kesatuan nafas, ruh dan kesadaran keilahian. Ia juga merupakan bangunan di mana mi’rajul mu’minin ditegakkan –shalat. Simbol hablullah (tali Allah) yang mengikat hati setiap muslim untuk bergantung kepada Allah SWT.

Masjid dengan Shalat, adalah dua kata yang bersinergi satu sama lain untuk mensterilkan keterliputan Adam dengan Hawa. Karenanya, kesucian Masjid adalah kemutlakan. Di dalamnya seorang hamba akan ‘dimandikan’ sebelum masuk kepada ‘alam’ aqsha. Ia juga merupakan ‘sosok’ perjuangan dan soliditas kebergantungan kepada Allah Azza wa Jalla. Sumber ‘energinya’ adalah ikhlas dan sabar. Maka, menjadi keharusan jika Masjid hanya bisa di ta’mirkan oleh orang-orang yang beriman kepada Allah. Menjadi ‘bukan Masjid’ jika ada orang yang tidak atau belum beriman menjadi ‘sopir’ atas kelangsungannya.

Demikianlah, sehingga kekokohan Masjid harus dimaknai menjadi dua; kokoh secara lahir dan kokoh secara bathin. Lahirnya adalah raga manusia, bangunannya, organisasinya dan ‘sopirnya’. Bathinnya adalah jiwa manusia, solidaritas sosial (kerukunan), keikhlasan manajerial, dan kesabaran pentahapan pembangunannya dan keistiqomahannya. Dari sanalah nantinya akan muncul keberkahan yang dapat mengayomi lingkungan sekitar. Kemampuan mengayomi inilah syarat mutlak sebuah Masjid. Tanpanya ia hanya akan menjadi sebuah tempat yang kering dan gersang.

Masjid dikatakan mengayomi jika ada interaksi sosial antarjamaah. Jamaah yang miskin disantuni oleh jamaah yang kaya dalam Masjid yang sama. Jamaah yang berilmu mengajari jamaah yang belum berilmu dalam Masjid yang sama. Jamaah yang kesulitan dibantu oleh jamaah lain dalam Masjid yang sama. Itulah bentuk konkret pengayoman Masjid.

Pra-Kondisi

Menelaah kondisi psikologis masyarakat muslim di pinggiran Kota Jakarta terutama Kota Bekasi, lebih khusus lagi Kelurahan Pekayon Jaya yang dalam kehidupannya sangat berkepentingan terhadap kesinambungan tradisi islami karena komunitasnya yang muslim. Kesadaran ini memunculkan sebuah gagasan untuk melaksanakan pekerjaan suci dalam rangka mempertahankan nilai-nilai yang kerap kali berbenturan dengan budaya Barat. Upaya ini adalah sebuah proses resistensi budaya Timur terhadap penetrasi budaya Barat yang memakai topeng modernisasi.

Salah satu upaya untuk menciptakan masyarakat dinamis agamis adalah dengan meniupkan ruh-ruh Islam dalam diri masyarakat. Ruh-ruh Islam akan muncul jika sarana sosial keagamaan sebagai syarat pendukung pembangunan aspek-aspek materil telah tersedia dengan layak. Oleh karena itu, pembangunan mesjid sebagai sentral pengembangan dakwah islamiyah mutlak diperlukan. Meningkatnya pertumbuhan penduduk, strategisnya pembangunan sarana ibadah secara geografis, dan kurangnya sentral informasi keagamaan adalah sebuah dasar pemikiran bergeraknya Yayasan Nururrahman untuk membangun Mesjid.

Sejarah Gagasan

Asal muasal munculnya gagasan pembangunan Masjid Ummul Quro diawali oleh semakin mendesaknya kebutuhan bimbingan manasik haji yang dikelola oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Nururrahman yang merupakan salah satu program kegiatan di bawah Yayasan Nururrahman. Sebelumnya, Masjid Ummul Quro ini bernama Masjid Nururrahman. Namun, karena keputusan musyawarah antara masyarakat, Pengurus masjid, dan Pengurus Yayasan, maka ditetapkanlah nama masjid menjadi Masjid Jami’ Ummul Quro.

Mulanya Yayasan hanya ingin membangun sebuah gedung serba guna yang peruntukkannya selain sebagai tempat kegiatan sosial keagamaan, terutama sekali juga dikhususkan untuk program bimbingan manasik haji. Akan tetapi, berhubung kondisi sosial secara geografis mengharuskan dibangunnya sebuah sarana ibadah, maka tepat sekali kiranya jika dibangun sebuah Masjid di lingkungan ini. Pertimbangannya, letak Masjid dari lingkungan ini terlampau jauh yaitu + 1 km arah selatan dan 1 km arah barat.

Berangkat dari pertimbangan di atas, maka melalui rapat pada tanggal 21 Februari 2001 di Mekkah Al-mukarramah tepatnya di Jabal Abi Qubais, dicanangkan sebuah tekad pembangunan mesjid Nururrahman dengan dukungan seluruh jamaah haji yang tergabung dalam KBIH Nururrahman angkatan tahun 2001.

Rencana ini secara teknis mulai diimplementasikan pada rapat tanggal 24 Maret 2001 di desa Cugenang-Puncak dengan pembahasan mengenai teknis pelaksanaan pembangunan. Dari rapat tersebut, pelaksanaan pembangunan ditandai dengan acara Tabligh Akbar dalam rangka peletakan batu pertama pada tanggal 29 April 2001.

Maksud dan Tujuan

Sesuai dengan arah pembangunan nasional dan mengingat semakin beratnya tantangan setiap muslim di era globalisasi, maka pembangunan sarana ibadah untuk memperkuat iman dan menimba ilmu mutlak diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk membentengi diri dan masyarakat dari pengaruh negatif budaya barat yang hampir tidak bisa dibendung.

Oleh karena itu, pembangunan mesjid ini ditujukan untuk meningkatkan proses penempaan mental spiritual masyarakat muslim di lingkungan Pekayon Jaya. Selain sebagai tempat ibadah, mesjid ini juga akan dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan di kalangan pemuda, orang tua, bimbingan manasik haji dan kegiatan sosial lainnya berdasarkan amanah keislaman.

Biodata Masjid

  • Nama Masjid  : Masjid Jamie’ Ummul Quro
  • Lokasi Masjid : Jl. Laskar No. 46 RT.06/02 Pekayon Jaya, Bekasi Selatan
  • Luas Masjid : + 250 m2
  • Daya Tampung : + 750 orang
  • Berdiri Sejak : 29 April 2001

Epilog

Membuat tempat ibadah menjadi nyaman dan indah dipandang adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Hal ini menuntut keseriusan dari jamaah Masjid yang sehari-hari atau setiap sepekan menggunakan Masjid sebagai tempat ibadah. Tekad dan kemauan dari jamaah Masjid adalah barometer kemakmurannya (imarahnya).

Adalah suatu awal keberhasilan dari proses tranformasi sosial keagamaan jika kesadaran kesejatian diri mulai tumbuh. Namun kesadaran tidak cukup jika tidak termanifestasi dalam niat. Dan niat tidak berarti apa-apa jika tidak mewujud dalam langkah nyata. Dan langkah nyata menjadi gamang jika tidak diiringi kesabaran, kekhidmatan, dan keikhlasan.

Namun semua menjadi sampah jika pembangunan fisik menjadi tolak ukur keberhasilan ruhiyah, lantaran harga materil menjadi alat bayar untuk ‘membeli’ nafsul muthmainnah wa qalbun salim. Demikianlah, mudah-mudahan Allah SWT melipat gandakan harta seseorang yang dinafkahkan di jalan-Nya. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: