Salah Kaprah Memahami Islam

Syeh Yusuf al-Qordowi pernah bercerita dalam buku kecilnya, bahwa ada orang barat yang memeluk Islam, kemudian mengatakan:’’ segala puji bagi Allah Swt yang telah memberiku petunjuk islam, sebelum aku mengetahui orang-orang islam’’. Apa yang dikemukakan oleh orang ini sangat menarik, karena jika di kaji dari sisi linguistic, pernyataan itu sangat mendalam. Seandainya ia melihat prilaku umat islam yang keras, menjadi da’i provokasi, serta saling berantem dan saling menyalahkan, bahakan tidak sedikit menyesatkan satu kelompok,  bertindak anarkis, sehingga menghalalkan darah sesama muslim. Kelompok ini lebih identic dengan ‘’irhabiatau terorisme’’. Akan tidak tepat menggunakan ”Islam” karena islam juga bisa diartikan ”damai”.

Oleh karena itu, lelaki itu bersyukur menemukan  islam melalui hidayah-Nya, bukan melihat realitas yang terjadi di lapangan. Ada lagi yang bisa ditangkap dalam pernyataan tersebut, yaitu sebuah kritikan tajam bahwa umat islam belum bisa memahami agamanya dengan benar, serta sering salah menafsiri kitab sucinya, serta salah memahami pernyataan Nabi Muhammad Saw. Apalagi, banyaknya lulusan dari Timur Tenggah yang ketika sampai di negerinya kadang tidak segan-segan membantai tetangganya sendiri sesama muslim dengan caci maki kafir, syirik, bid’ah. Padahal, kadang dirinya juga tidak tahu apa yang dilakukan itu belum tentu bernar-benar membawa kebaikan untuk semuanya.

Ada yang menarik, ada seorang lelaki menentang tradisi muslim Indonesia seperti tahlil dan istighosahan. Di sisi lain, Ia membuka sebuah toko kelontong yang menjual alat-alat dan prabotan dapur untuk tahlilan dan selamatan orang mati, serta sesajen, seperti; mika, cup, kotak, kardok, krangjang kecil. Ia benar-benar tidak suka dengan tradisi itu, sehingga di undang tahlil-pun tidak pernah datang dengan alasan bahwa tahlil itu meng-ada-ada (bid’ah). Yang tidak habis pikir ialah, jika memang itu benar-benar bid’ah kenapa menyediakan alat-alat yang mendukung pada praktek kebid’ahan. Padahal ia tahu benar, para pembelinya melakukan praktek bid’ah bahkan syririk.

Sampai suatu ketika, saat Pak Amin Rais mencalon RI 1, tiba-tiba salah satu dari karyawannya cletuk ke jurangan putrinya:’’ Bu….! Nanti kalau milih calon Presiden jangan Pak Amin ya….!soalnya, kalau Pak Amin Rais terpilih bisa-bisa dagangan kita tidak laku’’. Mendengar pernyataan ini, saya tertawa terpingkal-pingkal, karena antara prilaku dan keyakinan betengtangan, dan ini sungguh menjadi pemandangan sangat menarik bagiku.

Apa bedanya dengan orang-orang Amerika yang menyerukan perdamaia dunia,  tetapi mensuplai Yahudi dengan persenjataan lengkap. Senjata itu bukan untuk di simpan dan dibuat pameran semata, atau untuk gagah-gagahan, tetapi untuk diperjualbelikan, dan yang membeli adalah orang-orang Israel dengan tujuan membunuh orang-orang muslim Palestina. Ini adalah sebuah realitas yang terjadi di lapangan yang tak terbantahkan.

Memahami islam dalam kontek ke-Indonesiaan harus menyeluruh Universal. Indonesia bukanlah Negara islam, tetapi mayoritas beragama islam dengan beragam mazhab. Buya Hamka pernah menyatakan bahwa Madhab orang Indoensia adalah Syafii, walaupun realitasnya sekarang banyak madhab yang berkembang. Tetapi, sebagian besar penganut islam di Indonesia mengikuti madhab Imam Syafii. Ini juga dibuktikan dengan banyaknya intelektual muslim sejak abad 16-20, seperti; Syeh Yusuf Al-Makasari Al-Syafii, Syeh Arsad Al-Banjari, Syeh Abdullah Uhid Al-Bukhuri Al-Syaffi, Syeh Muhamamd Yasin al-Fadani Al-Syafii yang mengembangkan Madzhab Syafii.

Terlepas apa madhabnya dan apa partai politiknya, yang jelas islam itu harus tetap ramah, bukan keras dan suka membuat kekerasan dan keonaran. Keramahan Islam itu jauh-jauh hari telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw yang lebih suka menggunakan pendekatan ‘’Al-Maidzoh al-Hasanah’’ pitutur yang bagus nan indah, prilaku yang menyenangkan kepada setiap orang. Nabi Saw membuka kota suci Madinah dengan budi pekerti, bukan dengan pedang dan kekerasan. Jika islam di fahami dengan benar, sudah pasti orang akan berbondong-bondong menyatakan ke-Islamanya. Begitulah ajaran Nabi Saw, yang mengedepankan budi pekerti dan keteladanan, sungguh Nabi Saw telah menjadi uswatun hasanah di dalam semua aspek kehidupannya.

Abdul Adzim,Santri s3 Bahasa Arab Universitas Maulana Malik Ibrahim – Malang

Sumber : Kompasiana

  1. #1 by Adrian Owen Drasperton on 11 February 2012 - 03:40

    Dalam momentum peringatan tahun baru ini, apa yang telah kita lakukan itu tentu patut menjadi renungan untuk disyukuri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: